Bukan hal yang istimewa buat aku memiliki sebuah sepeda. Kendaraan ringan yang satu ini sudah bisa aku naiki sejak aku kecil, kira-kira usia 5 tahunan. Di Usia SD aku pernah sekali dibelikan sepeda merah oleh orangtuaku. Bangganya aku dibelikan sepeda warna merah, walaupun second.Tetap aku syukuri. Walaupun sebenarnya aku ingin yang lebih bagus dan keren dari itu, tapi apa daya tangan orangtua tak sampai kesitu.
Sepeda merah itupun aku pakai sampai rusak.Pertama sadelnya yang terbuat dari seng itu robek-robek.Sehingga kalau aku duduk tertusuk juga pantatku sampai robek celanaku.
Sudahlah itu masa lalu kawan. Kini aku ceritakan kisah sepeda yang lain.
Selama kuliah di jogja, dua kali aku ganti sepeda.Itupun tidak aku beli baru. Jatuhan dari kakak angkatan yang sudah mau lulus dan tidak mau repot-repot bawa pulang sepedanya. Sebenarnya kalau aku jadi mereka tak akan aku jual sepeda itu. Sudah jelek, bikin repot, rantainya sering copot, dijual pula.Tapi tak apalah kawan, yang penting dapat harga murah.Dan akhirnya, gratis.
Sepeda pertamaku warna biru.Syukur masih ada warnanya.Sebab sepedaku yang kedua tak berwarna.Nanti aku ceritakan.Sepeda biru itulah yang aku pakai sejak kulaih semester 1. Jarak 7 km ke kampus aku tempuh dengan bersepeda ria. Jadi 14 km sehari aku bersepeda.Itu kalau hanya pergi ke kampus.Kalau kebetulan aku harus bekerja mengaduk semen dan pasir di tempat yang jauh, bisa 15 km sekali jalan.Itu artinya aku bersepeda 30 km sehari.Dan ini yang paling sering aku lakukan.Untung kalau sepeda biru itu bisa bersahabat sampai di tempat tujuan. Kebanyakan sepedaku ngadat dengan cara melepaskan rantainya di tengah jalan. Untung pula kalau tidak ada orang lihat.Kalau banyak orang, malunya aku dilihat orang banyak.
Pernah suatu waktu aku pergi kuliah setelah sholat jum’at.Jarak 7 km biasa aku tempuh dalam waktu setengah jam.Menyusuri jalan ring road utara.Belok kanan ke jalan Kaliurang.Masuk kampus UGM tembus di UNY.Nyebrang ke Sanata Dharma.Dan berakhir di kampusku tercinta.UIN Sunan Kalijaga. Tapi naas, saat melintas di depan rektorat UGM. Saat aku kayuh sepeda sekencang mungkin agar sampai di kampus tepat waktu.Saat itu pula rantai sepedaku lepas.Membuat kakiku tersentak dan hilang keseimbangan.Maklum rem sepeda juga tidak berfungsi dengan baik. Aku terjatuh dari sepeda pas di depan kerumunan mahasiswa-mahasiswi UGM yang keren-keren. Dengan susah payah aku bangkit. Kulihat celanaku satu-satunya yang bagus untuk saat itu robek di bagian lutut.Sedihnya aku.Malunya aku.Dengan sedikit menahan malu.Aku kembalikan rantai sepedaku itu pada tempatnya walalupun kotor, hitam karena sering dikasih oli bekas.Aku tak peduli.Yang penting aku masih hidup.Sampai di kampus tubuh bermandikan peluh.Keringat bercucuran.Untung kampusku yang dulu cukup bersahabat.Aku bisa mandi dulu di kamar mandi kampus. Setelah badanku segar, baru aku bisa masuk kelas bersama teman-temanku.
Lain halnya dengan sepedaku yang satunya kawan.Tak berwarna. Karena sudah lama dimakan usia. Yang ini gratis.Warisan kakak takmir masjid di samping KFC Mirota Kampus UGM. Dua tahun lamanya aku di sana. Pertama tinggal di sana tak ada kendaraan yang bisa aku pakai. Hanya tersedia beberapa sepeda butut tergolek lesu di belakan WC.Lima sepeda aku jadikan satu.Batangannya dari sepeda yang satu. Bannya dari sepeda yang lain. Termasuk rantai dan pelg.Tak ketinggalan stang dan rem. Sepeda bisa jadi walau tanpa rem belakang. Yang bisa dirangkai hanya rem depan. Tak apa kawan yang penting ada. Dan bisa jalan.
Tapi, ternyata sepedaku yang kedua ini hanya bertahan dua hari.Itupun di hari yang kedua aku harus rela menuntun sepedaku yang sudah tak berdaya lagi.Bukan rantai yang lepas. Tapi ban belakang yang lepas dan as depan yang patah. Seandainya aku anak durhaka yang tidak sopan kepada kakak senior takmir, niscaya aku buang saja sepeda itu di jalanan.Bikin repot.Bikin malu.Tak berguna.Tapi aku terus bersabar.Mungkin sepeda ini bisa melengkapi kesengsaraanku selama kuliah.
Setelah sepeda itu tak berfungsi lagi, akhirnya sebulan lamanya aku berjalan kaki ke kampus.Pergi pagi pulang petang.Menghidari panasnya sengatan matahari.Sedih kawan.Sangat sedih.Memang miskin itu bukanlah aib.Tapi sangat menyakitkan.Aamiin.

No comments:
Post a Comment