.....
Teng ... teng ... teng ...
Lonceng
berdentang dengan sangat kencang. Memekakkan telinga. Lonceng itu terbuat dari
pipa besi dengan pemukul besi pula. Sehingga suaranya bisa terdengar dari
radius 1 kilometer. Apalagi jika dipukul jam 4 pagi.
Mendengar
suara lonceng bagi penghuni asrama seperti aku ini adalah hal yang sangat
menjengkelkan, namun terkadang menyenangkan. Menjengkelkan karena kemungkinan
besar ada titah ketua yayasan yang harus kami kerjakan. Ada pengumuman untuk
sekedar kumpul. Ada kasus kehilangan. Perintah mencari kayu. Ada program kerja
seperempat rodi. Atau hal-hal yang mengerikan lainnya bagi kami.
Tapi,
kadang bunyi lonceng sangat kami nantikan. Sepert lonceng waktu makan. Lonceng
pembagian snack. Atau ada undangan mendadak untuk event-event seperti tahlilan,
tasyakuran, dan lain sebagainya yang berjibun makanan diakhir acaranya.
Bagi
kami, lonceng itu sangat sakti. Sangat ajaib kawan. Sehingga kami lebih takut
pada lonceng daripada takut akan Tuhan kami sekalipun.
Lonceng
jam 4 pagi menandakan semua penghuni asrama harus segera bangun dan berada di
masjid untuk solat malam dilanjutkan i’tikaf dan solat subuh berjama’ah. Jangan
coba-coba terlambat solat subuh. Bisa-bisa tidak diizinkan ikut sarapan.
Bahkan, bisa jadi bahan tontonan jama’ah sarapan karena dihukum di kolah lele.
Bagi kami solat subuh berjama’ah adalah tiket untuk sarapan pagi. Tidak perlu
repot-repot solat malam 11 raka’at. Yang penting hadir di masjid sebelum subuh sambil duduk
tertidurpun sudah dicatat pahala solat malam oleh asisten malaikat. Tentang
asisten yang satu ini nanti aku ceritakan tersendiri. (bersambung.....)
No comments:
Post a Comment