Andai ada TV, lumayan bisa nonton sinetron. Andai punya laptop, mungkin bisa OL. Paling tidak bisa apdet berita terkini dari siaran berita TV atau browsing internet. Jangankan jaringan internet. Laptoppun aku tak punya. Bahkan laptop cebol yang orang bilang notbuk aja aku belum punya. Ya, itulah masa-masa yang aku dan dua orang teman baikku alami saat pertama kali menginjakkan kaki di Kota Balikpapan.
Satu-satunya hiburan yang kami punya adalah hape. Ya, Henpon butut kawan. Itu yang kami punya. Hiburan kami hanya sms-an dan memutar ring tone yang ada di hape kami. Kebetulan hape kami belum dilengkapi fitur multimedia canggih. Tak bisa memutar mp3, apalagi video. Jangankan begitu kawan, untuk nge-charge aja harus aku ikat pake karet supaya tidak lepas.
Nanti aku sambung lagi kawan.... selamat siang semua...
Hidayatulloh Alhafiz
Orang Gaptek Belajar Komputer
Sunday, January 20, 2013
Friday, January 11, 2013
Lonceng Sakti (1)
.....
Teng ... teng ... teng ...
Lonceng
berdentang dengan sangat kencang. Memekakkan telinga. Lonceng itu terbuat dari
pipa besi dengan pemukul besi pula. Sehingga suaranya bisa terdengar dari
radius 1 kilometer. Apalagi jika dipukul jam 4 pagi.
Mendengar
suara lonceng bagi penghuni asrama seperti aku ini adalah hal yang sangat
menjengkelkan, namun terkadang menyenangkan. Menjengkelkan karena kemungkinan
besar ada titah ketua yayasan yang harus kami kerjakan. Ada pengumuman untuk
sekedar kumpul. Ada kasus kehilangan. Perintah mencari kayu. Ada program kerja
seperempat rodi. Atau hal-hal yang mengerikan lainnya bagi kami.
Tapi,
kadang bunyi lonceng sangat kami nantikan. Sepert lonceng waktu makan. Lonceng
pembagian snack. Atau ada undangan mendadak untuk event-event seperti tahlilan,
tasyakuran, dan lain sebagainya yang berjibun makanan diakhir acaranya.
Tuesday, January 8, 2013
Sepeda Butut Itu
Bukan hal yang istimewa buat aku memiliki sebuah sepeda. Kendaraan ringan yang satu ini sudah bisa aku naiki sejak aku kecil, kira-kira usia 5 tahunan. Di Usia SD aku pernah sekali dibelikan sepeda merah oleh orangtuaku. Bangganya aku dibelikan sepeda warna merah, walaupun second.Tetap aku syukuri. Walaupun sebenarnya aku ingin yang lebih bagus dan keren dari itu, tapi apa daya tangan orangtua tak sampai kesitu.
Sepeda merah itupun aku pakai sampai rusak.Pertama sadelnya yang terbuat dari seng itu robek-robek.Sehingga kalau aku duduk tertusuk juga pantatku sampai robek celanaku.
Sudahlah itu masa lalu kawan. Kini aku ceritakan kisah sepeda yang lain.
Selama kuliah di jogja, dua kali aku ganti sepeda.Itupun tidak aku beli baru. Jatuhan dari kakak angkatan yang sudah mau lulus dan tidak mau repot-repot bawa pulang sepedanya. Sebenarnya kalau aku jadi mereka tak akan aku jual sepeda itu. Sudah jelek, bikin repot, rantainya sering copot, dijual pula.Tapi tak apalah kawan, yang penting dapat harga murah.Dan akhirnya, gratis.
Sepeda pertamaku warna biru.Syukur masih ada warnanya.Sebab sepedaku yang kedua tak berwarna.Nanti aku ceritakan.Sepeda biru itulah yang aku pakai sejak kulaih semester 1. Jarak 7 km ke kampus aku tempuh dengan bersepeda ria. Jadi 14 km sehari aku bersepeda.Itu kalau hanya pergi ke kampus.Kalau kebetulan aku harus bekerja mengaduk semen dan pasir di tempat yang jauh, bisa 15 km sekali jalan.Itu artinya aku bersepeda 30 km sehari.Dan ini yang paling sering aku lakukan.Untung kalau sepeda biru itu bisa bersahabat sampai di tempat tujuan. Kebanyakan sepedaku ngadat dengan cara melepaskan rantainya di tengah jalan. Untung pula kalau tidak ada orang lihat.Kalau banyak orang, malunya aku dilihat orang banyak.
Subscribe to:
Posts (Atom)

